Ariston Esa on the blog

KELUAR DARI BELENGGU PEMBODOHAN

Posted on: September 7, 2008

Seorang rekan mahasiswa bertanya “Sampai kapan ‘kekacauan’ dan ‘pembodohan’ akan terus berlangsung di negeri ini?” Kemudian saya memberikan jawaban yang kurang lebih begini; “Dalam menyelesaikan sebuah “kesemrawutan”, kita harus dapat berpikir ‘jernih’. Karena hanya melalui kejernihan akan muncul “keindahan” dalam “kesemrawutan”. Tentu saja, teman muda saya tidak begitu saja menerima penjelasan tersebut. “ Pak..…jangan tersinggung. Sudah lama saya “jenuh” dengan sikap pasrah dan acuh tak acuh dari penghuni Negara ini. Melihat segala “kekacauan dan pembodohan”  dari kacamata “keindahan” bisa saya artikan dengan memaafkan apa yang telah terjadi.  Kalimat klise yang sellau saya dengar adalah “ berusaha mensyukuri apa yang telah kita miliki”. Terus kapan negeri kita akan mengalami perbaikan dan kemajuan?”  Dia juga dengan berapi-api menyoroti system pendidikan kita yang carut-marut dan tidak mendukung kompetensi  siswa untuk menjadi SDM yang tangguh. “Kita belajar lebih dituntut untuk sekedar memperoleh nilai, bukan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik” begitu ia menyuarakan hati nuraninya.

Dari beberapa pembicaraan dengan teman muda ini saya akan mencoba berbagi pemikiran  dalam beberapa bagian, biar lebih lengkap dan jelas….’semoga’.

Mencari Keindahan dalam Kesemrawutan

Dalam menanggapi keadaan yang faktual ini, seorang kolega yang lebih senior pernah bertutur; “Anak muda sekarang jauh lebih pandai dan berpikiran majui ketimbang kita. Namun yang diperlukan oleh mereka adalah ‘wisdom’ dalam menerapkan apa yang mereka ketahui.”, dan saya sepenuhnya setuju. Dalam pembicaraan di atas yang saya maksudkan mencari” keindahan dalam kesemrawutan” bukanlah menerima dan berpangku tangan atas semua kekacauan tersebut. Namun kita perlu melihat bahwa dalam keadaan yang memprihatinkan tersebut masih banyak anak bangsa yang berprestasi dengan bakatnya masing-masing. Kita sering mendengar pemuda-pemudi Indonesia meraih berbagai penghargaan internasional di bidang pengetahuan, sains dan teknologi. Anak bangsa yang lain berprestasi melalui musik dan olahraga. Dan disudut Indonesia yang lain, menciptakan sastra dan menghadirkan keunikan yang mengundang decak kagum dunia.  Indah bukan? Ditengah keterbatasan bisa berprestasi sedemikian hebat. Artinya keadaan yang ada saat bukan sesuatu yang absolut, ada yang masih bisa dilakukan.

Lalu apa yang  perlu dilakukan? Jadilah bagian dari keindahan tersebut, jangan menjadi bagian dari kesemrawutan. Perbanyaklah keindahan (baca:prestasi) jangan ikut-ikutan menjadi biang carut marut. Bila kita hanya duduk mengomel, bergosip ria, bahkan ada yang bikin parodi, atau mungkin bersuara di jalan berdemonstrasi tanpa menjadi bagian dari solusi, dalam hal ini  kita sebenarnya ikut andil dalam menambah kesemrawutan. Sudah cukup banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak perlu, mulai bangkit dari duduk, lakukan apa yang terbaik dari apa yang kita miliki. Waktu sangatlah berharga. Jangan hanya gembar-gembor mengejar ketertinggalan dari bangsa lain kalau kita tidak segera mulai melakukan sesuatu. Dalam ajaran mulai melakukan sesuatu,   A’a Gym yang saya lihat resepnya manjur; Resep 3M. Mungkin bagi yang kurang familiar, saya perlu jabarkan sedikit;

M yang pertama, Mulai sedikit demi sedikit, M kedua, Mulai dari diri sendiri, M ketiga, Mulai sekarang juga.

(maaf A’a kalau saya mengutipnya ada yang salah, tapi saya rasa pembaca mengerti yang saya maksud).

Langkah Konkret

Sebagai seorang mahasiswa yang ingin memajukan bangsanya, terlebih dulu perlu mengubah diri sendiri. Untuk keluar dari “lingkaran pembodohan” beberapa perubahan konkret bisa dilakukan antara lain:

1.   Datang ke perkuliahan tepat waktu, mengikuti kuliah dengan baik dan tidak resah ingin segera kuliah berakhir.

2.   Mempersiapkan materi hari ini. Pada umumnya (maha)siswa yang ingin berprestasi  tidak takut kerja keras mempelajari materi,  sebelum pengajaran atau perkuliahan dimulai.

3.   Melakukan tugas yang diberikan dosen dengan sungguh-sungguh. Bukan menempuh jalan instan dengan mencotek hasil kerja temannya. Jadikan kebiasan mengcopy karya orang, yang notabene melanggar Hak Kekayaan Intelektual sebagai hal yang tabu dan nista.

4.   Berinisiatif mencari wawasan dan pengetahuan dari luar kelas, misalnya melalui perpustakaan atau internet. Internet menjadi sarana menunjang kemajuan, bukan hanya sekedar alat gengsi biar tidak disebut GAPTEK (gagap teknologi), atau hanya untuk cari teman melalui Friendster atau Facebook. Kuasai Teknologi dan manfaatkan untuk kebaikan.

5.   Tingkatkan kemampuan berbahasa asing, Inggris, Mandarin atau Jepang. Karena 2 bangsa terakhir merupakan bangsa yang sangat pesat kemajuannya. Kapan mau mengejar ketinggalan kalau bahasa pengetahuan saja tidak menguasai.

6.   Waktu nongkrong diisi dengan diskusi Ilmiah atau menambah wawasan; bukan ngegosip, main catur (amatir, kalau yang berlatih untuk kejuaraan tidak masalah) atau cuma sekedar bersantai untuk merokok. Beberapa kali saya bertemu bangsa lain misal Jepang, Amerika, Australia bahkan Singapura, yang selalu memanfaatkan waktu tunggu mereka dengan membaca. Bahan bacaan yang dibawa umumnya buku non fiksi, atau news paper (artinya benar-benar berita bukan koran gossip)

7.   Tidak takut bekerja keras. Pantang menyerah bila ada tantangan atau kesulitan. Tidak menempuh jalan pintas dengan melobi dosen, guru atau siapa saja yang diperlukan pengaruh dan kekuasaanya. Sekarang sudah bukan jamannya, duduk bersilang kaki tapi memperoleh kekayaan melimpah. (Terima kasih buat tim KPK dan Timtas Tipikor yang sudah bekerja keras selama ini).

Saya yakin bila rekan-rekan muda mau menjalankan beberapa hal di atas, bangsa kita akan lebih maju dan bermartabat. Atau bahkan mungkin dari rekan-rekan sudah ada yang terinspirasi untuk menambahkan kiat-kiat menjadikan diri lebih maju dan berprestasi, boleh menambahkannya.

Mungkin ada beberapa rekan yang komentar, cara-cara di atas lebih bersifat memperbaiki diri sendiri,  bukannya keadaan “di luar” kita yang harus diperbaiki?. Saya percaya tanpa adanya langkah perbaikan dari masing-masing kita, negeri ini lambat (atau boleh dibilang; tidak mungkin) menjadi maju. Karena kita selama ini masih berputar-putar mengulangi kesalahan yang sama dari rezim ke rezim. Konsukuensinya bangsa ini makin bodoh, terlantar dan terbelakang. Pemikiran saya mungkin terlalu sederhana, namun saya yakin, dengan mengubah mental dan etos generasi muda, negeri ini punya harapan untuk lebih baik. Untuk dapat keluar dari belenggu “Pembodohan” terlebih dahulu kita perlu menjadikan diri kita “pintar dan bijak” agar tidak mengulangi kesalahan dari para pendahulu kita.

 

(Baca pula bagian lanjutan dari tulisan ini) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Flickr Photos

A bellezza di a natura (C☺rsica)

More Photos

REMOVE YOUR BUSINESS PAIN

CMA Consulting is professional consultant with years of experience. Our consultancy subjects are including: Finance, Tax, Audit and Information Technology.

Twitter Updates

%d bloggers like this: