Ariston Esa on the blog

Image

Nyamplungan Crossing (Ngliwati Nyamplungan)

Posted on: October 26, 2013

Tidak biasanya saya pulang dari klien melewati jalan ini. Setiap pulang dari daerah Kalimas, saya lebih suka melewati penjara Kalisosok dan Pesapen untuk kemudian terus ke arah Jembatan Merah. Ambil jalur melewati Tugu Pahlawan atau kalau lagi pengin merubah rute paling banter saya lewat Kembang Jepun lalu menuju pulang melewati Undaan dan Taman Surya, alun-alun ikon kota Surabaya.

Hari ini saya “dipaksa” menempuh jalan lain. Maklum sekarang bulan “Besar” kata orang Jawa. Jadi banyak orang mengadakan hajatan terutama kawinan dimana-mana. Bahkan kadang jalan umum ditutup untuk digunakan sebagai acara hajatan. Biasanya ketika situasinya begini saya sering mengumpat dalam hati….dasar orang-orang nggak tahu aturan!!!! jalan umum ditutup untuk kepentingan pribadi. Ini kan bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang secara tersurat mengatakan bahwa kepentingan umum (negara) harus berada diatas kepentingan pribadi maupun golongan. Pasti dulu gak pernah belajar PMP. Hehehehe, tapi yah ini kan Indonesia gimana rakyatnya mau beres wong pimpinannya aja gak beres. Itu reaksi normal yang biasanya terbit dari hatiku yang begitu cinta negeri ini lahir batin. Tapi hari ini kayaknya aku agak lain, karena kubiarkan saja semuanya berlalu dan aku memutuskan pulang lewat jalan lain.

Keluar dari kompleks pertokoan saya memlih untuk lewat Jembatan Petekan. Buat yang katrok alias kurang gaul soal Surabaya ini infonya: jembatan Petekan tadinya adalah jembatan yang bisa terangkat sehingga kapal besar bisa melalui Kalimas, karena itu dinamakan Petekan. Sayangnya saat ini jembatan tersebut sudah diaspal permanen sehingga tidak bisa diangkat lagi salah satu ruasnya. Selain itu sarana kapal, tidak lagi melewati Kalimas. Buat yang masih gak ngerti soal jembatan ini, udah liat aja di Google Map ada kok.

Dari Jembatan Petekan seharusnya saya bisa putar balik ke Kalimas dan lewat “jalur nyaman” yang biasa saya lewati arah Tugu Pahlawan atau Kembang Jepun. Tapi saat melewati Jalan Hang Tuah terbersit untuk coba sedikit berpetualangan di Sabtu sore ini. Lagian saya udah trauma karena di jalan menuju pulang ada beberapa titik kemacetan, mana malam minggu lagi, banyak orang habis gajian, pasti jalan-jalan itu macet. Harusnya dari lokasi saya menuju rumah cukup ditempuh sekitar 40 menit, tapi kalau macet bisa sampai 1 jam lebih.

Nah akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat rute baru pulang ke rumah. Dari Hang Tuah saya memutuskan melewati Kenjeran arah Suramadu, sampai di Kenjeran saya akan ambil arah kanan untuk pulang lewat depan Galaxy Mall. Meskipun saya gak begitu tahu jalan saya nekad aja, toh saya ada waktu luang, bensin di mobil cukup dan insting saya kayaknya bener. Akhirnya saya pilih rute itu.

Karena saya tidak begitu tahu jalan, saya jalankan mobil saya lebih pelan, sambil celingukan lihat nama jalan. Salah satu jalan yang saya lewati adalah Kampung Ampel. Kampung Ampel adalah daerah perkampungan Arab yang cukup terkenal di Surabaya, tapi yang bikin saya excited saya melewati daerah Nyamplungan dan Pegirian. Sudah bertahun-tahun bahkan sejak kecil saya mendengar kedua nama jalan ini namun belum pernah sekalipun tahu dimana letaknya. Saya banyak dengar cerita daerah kota tua Surabaya ini dari almarhum Mama. Dia sering cerita tentang kedua daerah itu karena dia tumbuh di sana. Dia sering cerita bagaimana naik sepeda dari daerah Kalisari rumahnya saat masih belia, kemudian lewat Nyamplungan untuk ke pasar Pegirian. Dia cerita tentang penjual daging di sana tempat dia sering beli dengkul sapi untuk masak sup. Dan masih begitu banyak cerita lain yang begitu indah dan penuh kenangan. Saya benar-benar menikmati perjalanan ini.

Ternyata kadang menempuh jalan di luar yang biasa kita lalui, bisa menimbulkan perasaan yang senang tapi juga deg-degan. Dalam hidup ini saya bukan orang yang terlalu suka menempuh risiko. Saya seperti orang kebanyakan lebih suka berada di zona nyaman. Makan di warung yang sama setiap hari, melalui jalan yang sama setiap hari bahkan cara mengerjakan pekerjaan sehari-hari yang selalu sama, dan tanpa terasa itu terjadi puluhan tahun. Saya secara sendiri malah lebih parah, saya kalau nyetir mobil caranya “auto pilot“. Cukup buat saya untuk memikirkan tujuan saya hari ini kemana, dan alam bawah sadar yang melakukan pekerjaan mengemudikan mobil itu. Pikiran saya selama mengemudi berpindah ke area-area lain yang perlu saya pikirkan lebih serius. Kedengarannya agak mengerikan. Tapi syukurlah sampai hari ini saya gak pernah mengalami celaka. Yang sering adalah saya setelah tiba di tujuan tersebut saya baru sadar kalau mengambil jalan yang terlalu jauh jarak tempuhnya, karena saya tidak berpikir saat mengemudi. Pendek kata, semuanya auto pilot.
Hari ini saya memutuskan untuk menonaktifkan fitur auto pilot saya. Keluar dari zona nyaman dan mulai mencoba hal-hal yang baru. Mungkin banyak orang di luar sana yang sama seperti saya. Takut keluar dari “comfort zone” dan lebih memilih selalu melakukan hal yang sama setiap hari, karena terlalu takut kehilangan apa yang kita telah miliki hari ini.
Dari petualangan kecil saya hari ini, saya telah memetik banyak “buah”. Buah pertama, ternyata sedikit berpetualang cukup menyenangkan, menghilangkan kebosanan rutinitas hidup. Buah kedua banyak hal-hal yang tadinya hanya saya ketahui dari cerita sekarang saya bisa saksikan sendiri. Buah yang lain adalah selama perjalanan (baca perjalanan hidup) kita bisa menemukan banyak penunjuk jalan agar sampai ke tujuan. Namun selama perjalanan, kita harus tetap berusaha membaca “tanda-tanda” yang ada agar kita tidak terlena dalam perjalanan.

Terakhir saya teringat pesan seorang ilmuwan arif: Tidak mungkin seseorang akan lebih berhasil dari saat ini bila terus-menerus bekerja dengan cara-cara lama. So sahabat, jika anda ingin lebih baik dari hari ini, tidak ada salahnya bila; segera tinggalkan comfort zone anda, mulai menempuh rute perjalanan hidup yang baru, dan tetap yakin “penunjuk jalan” akan selalu tersedia bagi orang yang sungguh-sungguh ingin mencapai hari esok yang lebih baik.  And the most important…enjoy the ride and keep smiling.

Semolowaru, akhir Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Flickr Photos

A bellezza di a natura (C☺rsica)

More Photos

REMOVE YOUR BUSINESS PAIN

CMA Consulting is professional consultant with years of experience. Our consultancy subjects are including: Finance, Tax, Audit and Information Technology.

Twitter Updates

%d bloggers like this: